Hari minggu pagi cerah seperti biasanya.
Sekarang sudah sekitar pukul 10.30, tapi kursi-kursi plastik merah itu masih
berjajar membentuk tiga buah lingkaran terpisah, masih lengkap dengan orang
yang mendudukinya. Sebagian besar orang yang menduduki kursi-kursi tersebut
adalah pelajar. Sebagian sisanya adalah orang paruh baya dan lanjut usia.
Aku sedang berada di perkumpulan komunitas Taman Bahasa Bandung. Komunitas ini memang terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar bahasa inggris. Ini baru kedua kalinya aku menghadiri perkumpulan ini, sehingga aku ditempatkan di lingkaran untuk para beginner. Di lingkaran ini, kami baru saja selesai mempelajari berbagai abbreviation bersama Pak Ariyanto, dan sekarang percakapan menjadi kurang hidup semenjak Pak Ariyanto pamit untuk pergi.
Aku sedang berada di perkumpulan komunitas Taman Bahasa Bandung. Komunitas ini memang terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar bahasa inggris. Ini baru kedua kalinya aku menghadiri perkumpulan ini, sehingga aku ditempatkan di lingkaran untuk para beginner. Di lingkaran ini, kami baru saja selesai mempelajari berbagai abbreviation bersama Pak Ariyanto, dan sekarang percakapan menjadi kurang hidup semenjak Pak Ariyanto pamit untuk pergi.
“Kamu bisa bertanya, ‘apa yang ada di dalam
tasmu Pak Sabar?’”, Pak Misan mulai mengajak peserta untuk menghidupkan
pembicaraan, bertanya apa saja.
“Pak Sabar, what’s in your bag?”, tanya
seorang perempuan di lingkaran.
“This is for certificate”, jawab Pak Sabar,
seorang pria paruh baya, dengan terbata-bata. Aku tidak mengerti apa yang dia
maksud, dan sepertinya sebagian besar orang di lingkaran juga tidak mengerti.
“And money, too?”, sambung Pak Misan.
“No, this bag is empty”, jawab Pak Sabar,
masih dengan terbata-bata.
“So where did you put your money?”, tanya
Firman, seorang anggota senior komunitas yang sedang nyasar di lingkaran ini. Melihat
Pak Sabar yang kebingungan menjawab, Firman mengulangi pertanyaannya, “Jadi
Bapak simpan uangnya di mana?”
“Belum ada uangnya, belum nyari”, jawab Pak
Sabar menyengir.
“Oh that’s right, he’s an angkot driver”,
seorang perempuan paruh baya di lingkaran coba menjelaskan kebingungan peserta
lainnya.
Aku tertegun. Supir angkot. Ini klub bahasa
inggris, apa yang dilakukan supir angkot di klub bahasa inggris?
Aku jadi teringat kata-kata Pak Ariyanto
sebelumnya. “Pak Sabar is a persistent student. He always come every Sunday,
even though his English is poor”.
Aku tak tahan lagi bertanya. “Pak Sabar,
why do you want to learn English?”
“I want to improve my English”, jawab Pak
Sabar, nyengir, sama sekali tidak menjawab rasa penasaranku.
Komentar
Posting Komentar